
Pekanbaru, 23 Oktober 2025 — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau (FISIP UNRI) melaksanakan kegiatan Pengabdian Internasional bertema “Sentuhan Aman, Sentuhan Tidak Aman dan Kesehatan Mental: Menghormati Diri, Lindungi Teman”di SMA Islam As-Shofa Pekanbaru, Kamis (23/10).
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen FISIP UNRI dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan kerja sama lintas negara dan lintas disiplin ilmu.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FISIP UNRI, Dr. Meyzi Heriyanto, S.Sos., M.Si., yang menegaskan pentingnya edukasi tentang sentuhan aman dan kesehatan mental bagi remaja sebagai bagian dari perlindungan diri dan pembentukan karakter.
“Remaja adalah generasi yang sedang tumbuh dan mencari jati diri. Di usia ini, mereka perlu dibekali pemahaman tentang bagaimana menghormati diri sendiri dan menghargai batasan terhadap orang lain. Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan nilai penting bahwa setiap individu berhak merasa aman dan terlindungi,” ujar Dr. Meyzi.
Turut hadir Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Auradian Marta, S.IP., M.A., Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum Dr. Mayarni, S.Sos., M.Si., serta perwakilan dosen dari seluruh program studi di lingkungan FISIP UNRI. Pengabdian internasional ini menjadi bentuk dukungan institusi terhadap penguatan program pengabdian kepada masyarakat yang relevan dengan kebutuhan sosial masyarakat, khususnya kalangan pelajar.
Tiga narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Dr. Nur Zafifa Kamarunzaman dari Fakulti Sains Pentadbiran & Pengajian Polisi, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Dr. Meyzi Heriyanto, S.Sos., M.Si., Dekan FISIP Universitas Riau, dan Rahma Maidianti, M.Si., Kepala Sekolah SMA Islam As-Shofa Pekanbaru.
Dalam pemaparannya, Dr. Nur Zafifa Kamarunzaman menekankan bahwa pemahaman tentang sentuhan aman dan tidak aman merupakan langkah dasar bagi remaja untuk menjaga diri dari kekerasan dan pelecehan. Beliau menjelaskan bahwa tubuh adalah amanah dari Tuhan yang harus dijaga dengan penuh kehormatan.

“Tubuh kita adalah amanah dari Allah. Menjaga maruah berarti memelihara iman. Setiap remaja harus tahu haknya untuk berkata tidak, menjaga kehormatan diri, dan berani mencari bantuan ketika merasa tidak aman."


Dr. Zafifa membagikan data mengenai kondisi kesehatan mental remaja di Malaysia dan Indonesia, di mana 1 dari 3 remaja mengalami stres, 15–20 persen menunjukkan gejala depresi, dan 8 persen pernah berpikir untuk menyakiti diri. Ia mengajak siswa untuk lebih terbuka terhadap komunikasi, menghargai diri, dan peduli terhadap teman yang mengalami masalah emosional.
Materi yang disampaikan juga mencakup pengenalan terhadap bentuk-bentuk sexual grooming dan cat calling, serta tanda-tanda bahaya (red flags) dalam komunikasi daring. Melalui simulasi dan kegiatan interaktif, siswa diajak mengenali situasi berisiko dan menerapkan langkah perlindungan diri dengan prinsip “Jerit, Lari, Lapor.”


Selain itu, sesi kegiatan juga berisi aktivitas reflektif seperti “Kenali Sentuhan Aman dan Tidak Aman”, “Sahabat Penjaga”, dan “Reinforcement” untuk memperkuat pesan utama bahwa menjaga diri dan melindungi teman adalah tanggung jawab bersama.
Kepala SMA Islam As-Shofa, Rahma Maidianti, M.Si., menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas terlaksananya kegiatan pengabdian internasional ini di sekolahnya. “Kami sangat berterima kasih kepada FISIP Universitas Riau dan Universiti Teknologi MARA atas kolaborasi ini. Materi yang disampaikan sangat relevan dengan dunia remaja saat. Anak-anak kami belajar bahwa menjaga kehormatan diri dan menghormati orang lain bukan hanya ajaran moral, tetapi juga bentuk ibadah dan tanggung jawab sosial,” ungkap Rahma.

Ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini memberikan ruang aman bagi siswa untuk memahami pentingnya batas pribadi, keberanian berkata tidak terhadap perilaku salah, dan kesadaran untuk mencari bantuan ketika dibutuhkan.
Menurut Dr. Auradian Marta, S.IP., M.A., pengabdian internasional menjadi wadah pembelajaran sosial yang aplikatif bagi dosen dan mahasiswa untuk terlibat langsung dalam isu-isu yang menyentuh kehidupan remaja.
“Tema ini sangat kontekstual dengan kondisi sosial remaja saat ini. Kegiatan semacam ini menunjukkan bagaimana ilmu sosial bisa berperan dalam membangun kesadaran dan empati di masyarakat."

Sementara itu, Dr. Mayarni, S.Sos., M.Si menekankan pentingnya kesinambungan kegiatan pengabdian yang berdampak nyata.
“Pengabdian internasional seperti ini memperkuat peran FISIP UNRI tidak hanya dalam pendidikan dan riset, tetapi juga dalam pelayanan sosial lintas negara yang berdampak positif bagi masyarakat."
Kegiatan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para siswa aktif bertanya, berdiskusi, dan menampilkan pemahaman mereka dalam simulasi yang menggugah kesadaran bersama akan pentingnya saling melindungi dan menjaga kesehatan mental.

Melalui kegiatan ini, FISIP UNRI menegaskan komitmen untuk terus menghadirkan program pengabdian internasional yang berorientasi pada pembentukan karakter, kesejahteraan psikologis, dan kesadaran sosial generasi muda serta memperkuat kolaborasi akademik dengan mitra luar negeri dalam isu-isu kemanusiaan dan pendidikan. (RIRY, Foto:Fahmi)